Dulu saat aku masih kecil kau selalu bercerita tentang bagaimana dirimu menjalani hidup pada masa perang yang tidak bisa ditentukan apakah akan ada peluru nyasar atau tidak. Setiap saat selalu gambling antara hidup dan mati.
Kadang ceritamu di ulang itu lagi – itu lagi, kadang aku berpikir apa gak ada cerita yang lain lagi. “Kalo cerita itu sih aku dah hafal, kan dah diceritain lebih dari 5 kali …” pikirku. Tapi aku paksakan mendengarnya walau merasa bosan.
Selain cerita, kebiasaan ayah adalah mengajakku menyambangi makam kakek dan nenek moyangku pada hari pergantian bulan dan Jum’at Kliwon. “Aku yang sudah sarjana ini ngapain ikutan adat Jum’at kliwonan kayak gini sih …” pikirku juga.
Sampai pada saat dirinya sakit pun masih saja bercerita dengan cerita yang sama. Aku sama sekali tidak mengerti apa sih maksudnya bercerita itu dan itu terus. Tapi aku tak ingin juga beranjak untuk tidak mendengarkan ceritanya …
Saat ini beliau sudah wafat, sudah 40 hari berlalu … aku masih belum mengerti apa maksud beliau selalu bercerita berulang-ulang. Hanya saja sekarang aku baru menyadari …
Adanya dirimu sangatlah berarti dan sungguh berarti. Jujur saja jika memandang dirimu sama sekali tidak ada yang bisa dibanggakan, dirimu tidak pernah mengenyam pendidikan, fisikmu pun seperti orang tua yang lain biasa bahkan terlalu rapuh, kekayaanmu tak pernah aku bisa banggakan.
Melihat dari kondisimu, tidak ada lagi yang aku harapkan darimu. Soal menyelesaikan masalah, aku kan sarjana bahkan mudah-mudahan sebentar lagi dapat gelar master. Soal fisik aku sudah bisa mengerjakan apapun yang ku inginkan, aku lebih muda darimu. Soal kekayaan, aku tidak perlu lagi minta darimu, aku bisa cari penghidupanku sendiri …
Tapi kenapa saat ini … kenapa justru aku ingin mendengar petuah-petuah mu yang sesaat lalu aku berpikir itu petuah yang kolot dan tidak relevan lagi untuk jaman sekarang. Petuahmu memang terkesan kolot tapi justru setelah mendengarnya aku merasa tenang, mungkin bukan karena petuahnya tapi dirimu yang membuat tenang dan bahkan petuah itu bisa membuat semua permasalahan yang membuatku stress menjadi hilang.
Ceritamu yang berulang dan tak berujung pangkal dan aku sudah menghafalnya, sekarang justru aku ingin mendengarnya lagi. Aku tidak peduli berapa kali lagi dirimu menceritakannya, aku janji akan mendengarnya. Hanya dengan mendengarnya saja aku bisa tersenyum lagi, padahal sebelumnya aku selalu sibuk dengan pekerjaan yang selalu saja deadline. Saat mendengar ceritamu aku melupakan semua itu, aku tak peduli dengan pekerjaan, aku tak peduli dengan perintah boss lagi …
Sekarang aku mengerti, ceritamu yang terus berulang-ulang tentang dirimu dan leluhur selain untuk menghiburku agar aku tetap semangat menjalani hidup yang kau sendiri sudah tahu tidak ada jalan hidup yang lurus dan mulus. Kau selalu cerita dulu makan saja susah dan hidup diiringi desingan peluru, sekarang aku tahu kau mengamanatkan untuk jangan menyerah pada semua keadaan. Seakan kau ingin mengatakan ” Nak … jangan putus asa ya, sesulit apapun masalahmu jika kau tidak menyerah, Insya Allah akan berhasil.”
Akhirnya, aku berjanji ayah aku tidak akan menyerah sesuai amanatmu. Aku juga akan bercerita tentang dirimu pada anak-anakku untuk menumbuhkan semangat mereka. Aku sekarang juga tahu kenapa aku harus ikut ke makam bersamamu saat pergantian bulan dan Jum’at Kliwon. Minimal 2 kali dalam sebulan aku harus mengirimkan doa untukmu sebagai tanda dirimu berhasil mendidikku sebagai anak yang berbakti padamu …
Ayah, istirahatlah dengan tenang disisinya. Disini di dunia ini aku akan melanjutkan garis keturunanmu dan membuatmu sedikit bangga karena aku.
Allohuma warhamhu waafihi waafuanhu, wakrim nuzulahu birokhmatika ya arhamar rohimin.